cerita kesaksian atas kenabian Muhammad saw

Published November 27, 2012 by nida17

cerita kesaksian atas kenabian Muhammad saw

Post

1. Pendeta buhaira mengakui tanda2 kenabian nabi Muhamad saw pada umur 12 th

PENDETA BUHAIRA

Ketika
itu Muhammad masih remaja. Muhammad diasuh oleh pamannya Abu Thalib.
Muhammad lahir dalam keadaan yatim. Ketika ia masih berumur enam bulan
dalam kandungan ibunya, ayahnya meninggal. Ibunya pun, Sitti Aminah
hanya beberapa tahun saja memelihara nabi. Ketika berumur kurang lebih
enam tahun, ibunya meninggal dunia. Pengasuhan Muhammad lalu diserahkan
kepada kakeknya yaitu Abdul Muthalib. Abdul Muthalib pun hanya beberapa
tahun saja memelihara Muhammad lalu Abdul Muthalib pun meninggal dunia.
Pengasuhan Muhammad pun diserahkan kepada pamannya yaitu Abu Thalib.
Abu
Thalib ini mewarisi pekerjaan ayahnya yaitu sebagai penjaga Kabah.
Selain sebagai penjaga Kabah, Abu Thalib ini pun seorang pedagang. Pada
suatu hari Abu Thalib hendak berdagang ke negeri Syam. Abu Thalib lalu
mengajak Muhammad yang ketika itu masih remaja untuk pergi berdagang ke
negeri Syam. Muhammad setuju menemani pamannya berdagang ke negeri Sya.
Berangkatlah kabilah Abu Thalib ke negeri Syam.
Di tengah
perjalanan terjadi keanehan pada kabilah Abu Thalib. Kabilah ini
ternyata senantiasa dinaungi oleh awan. Dengan demikian, kabilah ini
tidak merasa demikian lelah dalam perjalanan mereka. Bila disamakan
dengan kartun, peristiwa Muhammad dinaungi oleh awan ini mungkin mirip
dengan Avatar. Dalam cerita wayang, Krisna pun demikian.
Sampailah
kabilah Abu Thalib di sebuah tempat yang didiami sejumlah penduduk,
sebelum tiba di negeri Syam. Salah seorang di antara penduduk itu
adalah Pendeta Buhaira. Melihat kabilah Abu Thalib, pendeta itu lalu
bertanya, “Siapa pemimpin kalian?” Seseorang menjawab, “Abu Thalib.”
Pendeta Buhaira berkata lagi, “Coba panggil ke mari!”. Abu Thalib pun
datang bersama Muhammad. Ketika Pendeta Buhaira itu melihat Muhammad,
ia lalu bertanya kepada Abu Thalib, “Siapakah pemuda ini?” Mendengar
pertanyaan itu, Abu Thalib, karena cintanya kepada Muhammad mengatakan
bahwa Muhammad adalah putranya. Tetapi Pendeta Buhaira menjawab,
“Tidak. Dia bukan putramu. Tak mungkin dia putramu.” Akhirnya Abu
Tahlib mengakui bahwa Muhammad adalah putra saudaranya, Abdullah yang
telah meninggal ketika Muhammad masih dalam kandungan.

Pendeta
Buhaira mengetakan bahwa ia melihat kabilah yang dinaungi awan. Ia pun
mengetahui dari kitabnya bahwa nabi akhir zaman mempunyai tanda-tanda
demikian dan akan lahir dalam keadaan yatim. Mendengar itu yakinlah
Pendeta Buhaira bahwa Muhammad akan menjadi nabi akhir zaman. Pendeta
Buhaira lalu berpesan kepada Abu Thalib agar menjaga Muhammad karena
banyak orang jahat yang berniat membunuhnya.

Karena khawatir
akan keselamatan Muhammad, Abu Thalib segera pulang ke Mekah dan tak
melanjutkan perjalanan bisnisnya untuk tahun itu.

2. Surat Rasulullah saw. kepada Hiraklius (Herkules) untuk mengajak masuk Islam

Hadis riwayat Abu Sufyan ra. ia berkata:
Aku
berangkat ke Syam pada masa perdamaian Hudaibiah, yaitu perjanjian
antara diriku dan Rasulullah saw. Ketika aku berada di Syam, datanglah
sepucuk surat dari Rasulullah saw. yang ditujukan ke Hiraklius,
Penguasa Romawi. Yang membawa surat itu adalah Dihyah Al-Kalbi yang
langsung menyerahkannya kepada Penguasa Basrah. Selanjutnya, Penguasa
Basrah menyerahkan kepada Hiraklius. Hiraklius lalu bertanya: Apakah di
sini terdapat seorang dari kaum lelaki yang mengaku sebagai nabi ini?
Mereka menjawab: Ya! Maka aku pun dipanggil bersama beberapa orang
Quraisy lainnya sehingga masuklah kami menghadap Hiraklius. Setelah
mempersilakan kami duduk di hadapannya, Hiraklius bertanya: Siapakah di
antara kamu sekalian yang paling dekat nasabnya dengan lelaki yang
mengaku sebagai nabi ini? Abu Sufyan berkata: Lalu aku menjawab: Aku.
Kemudian aku dipersilakan duduk lebih dekat lagi ke hadapannya
sementara teman-temanku yang lain dipersilakan duduk di belakangku.
Kemudian Hiraklius memanggil juru terjemahnya dan berkata kepadanya:
Katakanlah kepada mereka bahwa aku akan menanyakan kepada orang ini
tentang lelaki yang mengaku sebagai nabi itu. Jika ia berdusta
kepadaku, maka katakanlah bahwa ia berdusta. Abu Sufyan berkata: Demi
Allah, seandainya aku tidak takut dikenal sebagai pendusta, niscaya aku
akan berdusta. Lalu Hiraklius berkata kepada juru terjemahnya: Tanyakan
kepadanya bagaimana dengan keturunan lelaki itu di kalangan kamu
sekalian? Aku menjawab: Di kalangan kami, dia adalah seorang yang
bernasab baik. Dia bertanya: Apakah ada di antara nenek-moyangnya yang
menjadi raja? Aku menjawab: Tidak. Dia bertanya: Apa kamu sekalian
menuduhnya sebagai pendusta sebelum dia mengakui apa yang dikatakannya?
Aku menjawab: Tidak. Dia bertanya: Siapakah pengikutnya, orang-orang
yang terhormatkah atau orang-orang yang lemah? Aku menjawab: Para
pengikutnya adalah orang-orang lemah. Dia bertanya: Mereka semakin
bertambah ataukah berkurang? Aku menjawab: Bahkan mereka semakin
bertambah. Dia bertanya: Apakah ada seorang pengikutnya yang murtad
dari agamanya setelah dia peluk karena rasa benci terhadapnya? Aku
menjawab: Tidak. Dia bertanya: Apakah kamu sekalian memeranginya? Aku
menjawab: Ya. Dia bertanya: Bagaimana peperangan kamu dengan orang itu?
Aku menjawab: Peperangan yang terjadi antara kami dengannya
silih-berganti, terkadang dia mengalahkan kami dan terkadang kami
mengalahkannya. Dia bertanya: Apakah dia pernah berkhianat? Aku
menjawab: Tidak. Dan kami sekarang sedang berada dalam masa perjanjian
damai dengannya, kami tidak tahu apa yang akan dia perbuat. Dia
melanjutkan: Demi Allah, aku tidak dapat menyelipkan kata lain dalam
kalimat jawaban selain ucapan di atas. Dia bertanya lagi: Apakah
perkataan itu pernah diucapkan oleh orang lain sebelum dia? Aku
menjawab: Tidak. Selanjutnya Hiraklius berkata kepada juru terjemahnya:
Katakanlah kepadanya, ketika aku bertanya kepadamu tentang nasabnya,
kamu menjawab bahwa ia adalah seorang yang bernasab mulia. Memang
demikianlah keadaan rasul-rasul yang diutus ke tengah kaumnya. Ketika
aku bertanya kepada kamu apakah di antara nenek-moyangnya ada yang
menjadi raja, kamu menjawab tidak. Menurutku, seandainya ada di antara
nenek-moyangnya yang menjadi raja, aku akan mengatakan dia adalah
seorang yang sedang menuntut kerajaan nenek-moyangnya. Lalu aku
menanyakan kepadamu tentang pengikutnya, apakah mereka orang-orang yang
lemah ataukah orang-orang yang terhormat. Kamu menjawab mereka adalah
orang-orang yang lemah. Dan memang merekalah pengikut para rasul. Lalu
ketika aku bertanya kepadamu apakah kamu sekalian menuduhnya sebagai
pendusta sebelum dia mengakui apa yang dia katakan. Kamu menjawab
tidak. Maka tahulah aku, bahwa tidak mungkin dia tidak pernah berdusta
kepada manusia kemudian akan berdusta kepada Allah. Aku juga bertanya
kepadamu apakah ada seorang pengikutnya yang murtad dari agama setelah
ia memeluknya karena rasa benci terhadapnya. Kamu menjawab tidak.
Memang demikianlah iman bila telah menyatu dengan orang-orang yang
berhati bersih. Ketika aku menanyakanmu apakah mereka semakin bertambah
atau berkurang, kamu menjawab mereka semakin bertambah. Begitulah iman
sehingga ia bisa menjadi sempurna. Aku juga menanyakanmu apakah kamu
sekalian memeranginya, kamu menjawab bahwa kamu sekalian sering
memeranginya. Sehingga perang yang terjadi antara kamu dengannya
silih-berganti, sesekali dia berhasil mengalahkanmu dan di lain kali
kamu berhasil mengalahkannya. Begitulah para rasul akan senantiasa
diuji, namun pada akhirnya merekalah yang akan memperoleh kemenangan.
Aku juga menanyakanmu apakah dia pernah berkhianat, lalu kamu menjawab
bahwa dia tidak pernah berkhianat. Memang begitulah sifat para rasul
tidak akan pernah berkhianat. Aku bertanya apakah sebelum dia ada
seorang yang pernah mengatakan apa yang dia katakan, lalu kamu menjawab
tidak. Seandainya sebelumnya ada seorang yang pernah mengatakan apa
yang dia katakan, maka aku akan mengatakan bahwa dia adalah seorang
yang mengikuti perkataan yang pernah dikatakan sebelumnya. Dia
melanjutkan: Kemudian Hiraklius bertanya lagi: Apakah yang ia
perintahkan kepadamu? Aku menjawab: Dia menyuruh kami dengan salat,
membayar zakat, bersilaturahmi serta membersihkan diri dari sesuatu
yang haram dan tercela. Hiraklius berkata: Jika apa yang kamu katakan
tentangnya itu adalah benar, maka ia adalah seorang nabi. Dan aku
sebenarnya telah mengetahui bahwa dia akan muncul, tetapi aku tidak
menyangka dia berasal dari bangsa kamu sekalian. Dan seandainya aku
tahu bahwa aku akan setia kepadanya, niscaya aku pasti akan senang
bertemu dengannya. Dan seandainya aku berada di sisinya, niscaya aku
akan membersihkan segala kotoran dari kedua kakinya serta pasti
kekuasaannya akan mencapai tanah tempat berpijak kedua kakiku ini. Dia
melanjutkan: Kemudian Hiraklius memanggil untuk dibawakan surat
Rasulullah saw. lalu membacanya. Ternyata isinya adalah sebagai
berikut: Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Pemurah, dari Muhammad, utusan Allah, untuk Hiraklius, Penguasa Romawi.
Salam sejahtera semoga selalu terlimpah kepada orang-orang yang mau
mengikuti kebenaran. Sesungguhnya aku bermaksud mengajakmu memeluk
Islam. Masuklah Islam, niscaya kamu akan selamat. Masuklah Islam
niscaya Allah akan menganugerahimu dua pahala sekaligus. Jika kamu
berpaling dari ajakan yang mulia ini, maka kamu akan menanggung dosa
seluruh pengikutmu. (Wahai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat
ketetapan yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak
kita sembah kecuali Allah dan tidak kita mempersekutukan Dia dengan
sesuatu pun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain
sebagai Tuhan selain daripada Allah. Jika mereka berpaling maka
katakanlah kepada mereka: Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang
yang menyerahkan diri kepada Allah). Selesai ia membaca surat tersebut,
terdengarlah suara nyaring dan gaduh di sekitarnya. Lalu ia
memerintahkan sehingga kami pun segera dikeluarkan. Lalu aku berkata
kepada teman-temanku ketika kami sedang menuju keluar: Benar-benar
telah tersiar ajaran Ibnu Abu Kabasyah, dan sesungguhnya ia benar-benar
ditakuti oleh Raja Romawi. Abu Sufyan berkata: Aku masih terus merasa
yakin dengan ajaran Rasulullah saw. bahwa ia akan tersiar luas sehingga
Allah berkenan memasukkan ajaran Islam itu ke dalam hatiku. (Shahih
Muslim No.3322)

_________________
Cintailah orang yang kau cintai sekedarnya saja, siapa tahu, pada suatu hari kelak, ia akan berbalik menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah orang yang kau benci sekedarnya saja, siapa tahu, pada suatu hari kelak, ia akan berbalik menjadi orang yang kau cintai (Imam Ali RA)
_________________
“tidak akan terjadi kiamat sampai matahari terbit dari barat. ketika manusia melihatnya mereka menyatakan iman. tetapi iman mereka tidak berguna, kecuali mereka sudah beriman sebelum kejadian tersebut” (HR. IMAM BUKHORI)

Back to top

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: